Denmark Mengadopsi Lampu Jalan Merah untuk Melindungi Kelelawar, Merintis Teknologi Kota Cerdas

21

Denmark beralih ke penerangan jalan berwarna merah di wilayah tertentu, menandai langkah signifikan menuju mitigasi dampak polusi cahaya terhadap satwa liar sekaligus menguji teknologi kota pintar yang mutakhir. Kota Gladsaxe, dekat Kopenhagen, memimpin inisiatif ini dengan memasang sekitar 5.000 lampu jalan LED merah, khususnya di sepanjang rute yang sering dikunjungi oleh tujuh spesies kelelawar.

Mengapa Merah? Ilmu Pengetahuan di Balik Pergeseran

Lampu tradisional berspektrum putih dan biru mengganggu kemampuan ekolokasi alami kelelawar, sehingga menghambat perilaku mencari makan dan berkembang biak. Penelitian Direktorat Jalan Denmark (DRD) mengungkapkan gangguan ini, yang mendorong peralihan ke LED merah. Lampu merah, dengan panjang gelombangnya yang lebih panjang, tidak terlalu mengganggu navigasi kelelawar dan kehidupan sehari-hari. Ini bukan hanya tentang kelelawar; ini tentang dampak cahaya buatan yang lebih luas terhadap ekosistem.

Sakelar ini juga menawarkan manfaat praktis: LED merah mengonsumsi lebih sedikit energi dibandingkan lampu natrium lama dan memerlukan lebih sedikit perawatan. Kecerahannya dapat disesuaikan, memungkinkan keselamatan jalan yang optimal tanpa tumpahan cahaya yang berlebihan.

Pencahayaan Cerdas: Lebih Dari Sekadar Penerangan

Proyek ini melampaui perlindungan satwa liar. Lampu baru ini menggunakan sensor gerak, menandai tahap awal dalam mengintegrasikan infrastruktur jalan dengan sistem cerdas. Perusahaan asal Belanda, Signify, membayangkan masa depan di mana lampu jalan berfungsi sebagai “node digital” – perangkat yang terhubung dengan alamat IP, mampu menampung 5G, Wi-Fi, CCTV, dan bahkan mikrofon pendeteksi kebisingan.

“Lampu jalan telah berkembang… memberikan pencahayaan berkualitas, namun juga sebagai titik digital,” kata juru bicara Signify, Harry Verhaar.

Keterhubungan ini dapat menghasilkan data berharga mengenai pola lalu lintas, penggunaan listrik, dan polusi suara, sehingga memungkinkan kota untuk menyesuaikan tingkat pencahayaan berdasarkan aktivitas real-time. Implikasinya sangat luas: mulai dari optimalisasi konsumsi energi hingga peningkatan keselamatan publik dan perencanaan kota berbasis data.

Inisiatif Eropa dan Tren Global

Proyek di Denmark ini sebagian didanai oleh program ‘Lighting Metropolis – Green Mobility’ Uni Eropa, yang telah menggantikan 50.000 lampu jalan tua di Denmark dan Swedia. Sementara itu, Australia sedang melakukan transisi ke LED putih, dengan uji coba opsi warna putih hangat yang dapat diredupkan sedang berlangsung di Victoria.

Trennya jelas: kota-kota di seluruh dunia beralih ke sistem pencahayaan yang lebih efisien dan kaya data. Pertanyaannya bukan apakah lampu jalan akan menjadi pintar, namun seberapa cepat dan seberapa efektif potensinya akan terbuka.

Penerapan LED merah di Denmark mewakili momen penting dalam evolusi ini, yang menunjukkan bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dan inovasi teknologi dapat bersatu untuk membentuk kembali infrastruktur perkotaan.